CARA KERJA OTAK MANUSIA

          Bagaimana sih cara kerja otak kita sehubungan dengan pembelajaran? Otak merupakan benda kecil yang memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan kita. Semua kegiatan kita dijalankan oleh otak, dan terpusat pada otak. Otak kita terdiri dari 78% air, 10% lemak dan 8% protein. Dan bagian terbesar dari otak kita yaitu 80% merupakan cerebrum. Cerebrum bertanggung jawab atas fungsi-fungsi berfikir tingkatan tertinggi dan pengambilan keputusan. Otak manusia memiliki bagian terbesar dari korteks yang tak terikat (tidak memiliki fungsi tertentu) sehingga memberikan fleksibilitas dan kapasitas yang luar biasa bagi otak manusia untuk pembelajaran.

         Otak memiliki empat bagian, antara lain lobus occipital yaitu lobus bagian belakang yang bertanggung jawab atas penglihatan. Lobus frontal di bagian depan yang berperan terhadap tindakan-tindakan yang disengaja seperti memberi penilaian, kreativitas, menyelesaikan masalah dan merencanakan sesuatu. Lobus pariental yang terletak pada bagian atas dari otak kita, yang bertugas memproses sesuatu yang berhubungan dengan sensori yang lebih tinggi dan fungsi-fungsi bahasa. Yang terakhir yaitu lobus temporal yang berada pada bagian kanan dan kiri otak kita, yang bertanggung jawab terhadap pendengaran, memori, pemaknaan, dan bahasa. Namun, antara masing-masing lobus ada beberapa fungsi yang saling tumpang tindih.

            Ada dua macam sel otak yang kita miliki, yaitu sel glial dan neuron. Sel glial memiliki tugas multirupa dan meliputi produksi myelin bagi axon (perluasan sel saraf), pendukung struktural bagi penghalang darah otak, transportasi nutrien, dan pengaturan sistem imun. Neuron berfungsi menyalakan, mengintegrasikan dan mengolah informasi secara terus-menerus di sepanjang celah mikroskopik yang disebut sinapsis, yang menghubungkan satu sel dengan sel lainnya.

         Dalam pembelajaran, otak kita akan menerima stimulus-stimulus yang diberikan kepada kita. Jika stimulus itu dianggap penting oleh otak, maka otak akan menempatkan stimulus itu ke dalam memori jangka panjang. Akan tetapi jika stimulus itu dianggap tidak begitu penting bagi otak, maka hanya akan menyisakan jejak yang lemah, dan diprioritaskan rendah. Tanpa kita sadari, segala ingatan dan pengalaman serta memori yang kita pelajari dan kita miliki sejak kita baru lahir, saat ini, hingga di akhir usia kita kelak, tersimpan rapi di dalam memori otak kita dan siap dipanggil oleh otak kita. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajarn yaitu nutrisi, teman, disfungsi otak, pra-pembelajaran, pengalaman, sifat dan temperamen, gen serta nutrisi.

          Gen tidak membentuk pola pembelajaran. Jika anak dilahirkan dengan gen dari seorang yang jenius, akan tetapi dibesarkan dalam lingkungan yang tidak mendukung dan tidak diperkaya, maka kesempatan baginya untuk menjadi jenius menjadi rendah. Pada sisi lain, anak yang dilahirkan dengan gen rata-rata, namun dibesarkan dalam lingkungan yang mendukung dan menstimulasi secara intelektual, maka kesempatan anak tersebut untuk mencapai tingkat yang luar biasa dapat terwujud. Ada lima tahap dalam pembelajaran, yaitu antara lain persiapan (mempersiapkan pembelajar dengan koneksi), akuisisi (penerimaan input sensori), elaborasi (mengoreksi kesalahan dan pendalaman), formasi memori (pembelajaran menggabungkan sandi), dan integrasi fungsional (memperkuat dan memperluas pembelajaran baru).

         Sehubungan dengan intelegensi, setiap anak memiliki bakat yang dibawa sejak lahir yang tidak hanya pada satu keahlian, namun dapat berupa kecerdasan ganda yang dilandasi paradigma bahwa setiap manusia terlahir membawa potensi genius. Potensi genius tersebut yaitu kekaguman, curiosity, spontanitas, vitalitas, fleksibilitas yang dapat diperoleh tanpa pendidikan formal.

          Tiga tingkatan otak yaitu Reptilian brain/batang otak (lapisan paling dalam), Sistem limbic/otak mamalia, dijuluki otak paleomaminalia yang mewadahi aneka empsi (lapisan tengah), Neo-cortex/otak berpikir atau otak neomamalia yang berisi muatan intelegensi dan penalaran (lapisan paling luar).

         Dari uraian di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa berdasarkan fungsi otak kita dalam pembelajaran, sebagai pendidik sebaiknya menerapkan pembelajaran yang menyetarakan dengan kemampuan otak dalam belajar karena jumlah dan ukuran saraf otak terus bertambah hingga anak memasuki usia remaja. Selain itu guru juga harus senantiasa menyeimbangkan fungsi otak kanan dan otak kiri, serta mulai mengenali dan memperhatikan bakat siswanya

About Kurwinda Kristi

muda beda dan bahagia
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s