GURU PROFESIONAL

Published 4 April 2012 by Kurwinda Kristi

tugas kuliah lagi.. tugas kuliah lagi… namanya juga kuliah jadi mahasiswa dapet tugas dari dosen,, kalo gak mau dapet tugas jadi dosen aja haha.. tapi dosen juga banyak tugas.. hrgghh trus apa donk yang gak ada tugasnya.. tidurr.. nglantur.. ni tugas mata kuliah persiapan profesi guru pendidikan jasmani/penjas..  dosennya enak gak enak tapi dibikin enak aja.. nih dia bahasan tentang guru profesionalnya.. semoga bermanfaat..

 BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

            Keberadaan guru profesional  sangat jauh dari yang telah dicita – citakan saat ini. Dengan menjamurnya sekolah – sekolah yang rendah mutunya memberitahukan bahwa guru profesional hanya sebuah wacana public yang belum teralisasi secara merata dalam seluruh tingkat pendidikan yang ada di Indonesia. Hal tersebut telah memberikan bukti tentang keprihatinan yang tidak hanya datang dari kalangan pelajar/ akademis tetapi orang awam saat ini mulai mengomentari ketidakberesan pendidikan dan tenaga pengajar yang sudah ada. Kenyataan tersebut menggugah kalangan akademis sehingga mereka akan lebih berupaya meningkatkan ualifikasi guru melalui pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dengan pelatihan sehingga guru memiliki kualifikasi pendidikan minimal Strata 1.

             Tantangan pada masa depan sistem pendidikan di Indonesia tidak semata – mata menyangkut upaya untuk meningkatkan mutu dan efisiensi pendidikan secara internal/ dari dalam, tetapi juga dituntut untuk meningkatkan kesesuaian pendidikan dengan aneka aspek kehidupan lain yang semakin kompleks ( Danin, 2002 : 17 ). Oleh karena itu perlu program pengembangan tenaga kependidikan penting untuk dirancang secara cermat dan tepat.  Dunia pendidikan dituntut untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia yang sesuai dengan kemajuan teknologi dan budaya yang berkembang dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena pendidikan merupakan upaya untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Secara khusus tujuan dinyatakan dalam Undang – undang RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan mmembentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab ( Pasal 3 Undang – undang RI No 20 Tahun 2003 ). Untuk dapat mencapai tujuan yang ditetapkan maka individu – individu dalam organisasi pendidikan harus memiliki kemampuan. Guru sebagai bagian dari organisasi sekolah memiliki kewajiban untuk melaksanakan serangkaian tugas sesuai dengan fungsi yang harus dijalankannya. Sebagai seorang manajer proses belajar mengajar guru berkewajiban member pelayanan kepada siswanya terutama alam kegiatan pembelajaran di kelas. Tanpa menguasai materi pelajaran, strategi pembelajaran dan pembimbingan kepada siswa untuk mencapai prestasi yang tinggi, maka guru tidak mungkin dapat mencapai kualitas pendidikan yang maksimal ( Suhardan, 2007 : 4 ). Oleh karena itu disusunlah makalah ini dimana didalamnya menerangkan tentang bagaimana seorang guru menjadi profesional, apa saja yang harus dilakukan dan sebagainya.

BAB II

ISI

 A.  Pengertian Guru

Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru.

Dalam agama Hindu, guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (vidya) dan juga pembagi ilmu. Seorang guru adalah pemandu spiritual/kejiwaan murid-muridnya.

Dalam agama Buddha, guru adalah orang yang memandu muridnya dalam jalan menuju kebenaran. Murid seorang guru memandang gurunya sebagai jelmaan Buddha atau Bodhisattva.

Secara formal, guru adalah seorang pengajar di sekolah negeri ataupun swasta yang memiliki kemampuan berdasarkan latar belakang pendidikan formal minimal berstatus sarjana, dan telah memiliki ketetapan hukum yang syah sebagai guru berdasarkan undang-undang guru dan dosen yang berlaku di Indonesia. Dibagi menjadi tiga yaitu :

  1. Guru Tetap

Guru yang telah memiliki status minimal sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil, dan telah ditugaskan di sekolah tertentu sebagai instansi induknya. Selaku guru di sekolah swasta, guru tersebut dinyatakan guru tetap jika telah memiliki kewewenangan khusus yang tetap untuk mengajar di suatu yayasan tertentu yang telah diakreditasi oleh pihak yang berwenang di kepemerintahan Indonesia.

  1. Guru Honorer

Guru tidak tetap yang belum berstatus minimal sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil, dan digaji per jam pelajaran. Seringkali mereka digaji secara sukarela, dan bahkan di bawah gaji minimum yang telah ditetapkan secara resmi. Secara kasat mata, mereka sering nampak tidak jauh berbeda dengan guru tetap, bahkan mengenakan seragam Pegawai Negeri Sipil layaknya seorang guru tetap. Hal tersebut sebenarnya sangat menyalahi aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Secara fakta, mereka berstatus pengangguran terselubung. Pada umumnya, mereka menjadi tenaga sukarela demi diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil melalui jalur honorer, ataupun sebagai penunggu peluang untuk lulus tes Calon Pegawai Negeri Sipil formasi umum.

B.  Guru Sebagai Sebuah Profesi

Standar nasional pendidikan antara lain dengan mengamanatkan kepada seluruh pendidik untuk memenuhi standar pendidik dan tenaga kependidikan, antara lain sebagai berikut :

  1. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
  2. Kualifikasi akademik dibuktikan dengan ijazah dan atau sertifikat keahlian yang relevan.
  3. Kompetensi sebagai agen pembelajaran meliputi kompetensi pedagogic, kepribadian, profesional, dan sosial.

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, serta pada jenjang pendidikan anak usia dini. Sebagai seorang pendidik profesional maka guru dituntut untuk menguasai substansi kajian yang mendalam, dapat melaksanakan pembelajaran yang mendidik, kepribadian, dan memiliki komitmen dan perhatian terhadap perkembangan peserta didik.

  1. Tugas dan Fungsi Guru dalam Pendidikan

Guru sebagai tenaga profesional bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran,, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, melakukan penelitian, membantu pengembangan dan pengelolaan program sekolah serta mengembangkan profesionalitas.

Berikut adalah tabel tentang tugas dan fungsi guru dalam pelaksanaan pendidikan :

TUGAS

FUNGSI

URAIAN TUGAS

Mendidik, mengajar, membimbing, dan melatih

  1. Sebagai pendidik
  2. Mengembangkan potensi
  3. Mengembangkan kepribadian
  4. Memberi keteladanan
  5. Menciptakan suasana pendidikan kondusif
  6. Sebagai pengajar
  7. Merencanakan pembelajaran
  8. Melaksanakan pembelajaran mendidik
  9. mengevaluasi
  10. sebagai pembimbing
  11. mendorong perilaku positif
  12. membimbing memecahkan masalah
  13. sebagai pelatih
  14. melatih keterampilan
  15. membiasakan berperilaku positif
 
   
   
   

Membantu pengembangan/

pengelolaan program sekolah

  1. sebagai pengembang program

Membantu mengembangkan program pendidikan sekolah dan hubungan kerjasama antar sekolah.

  1. Sebagai pengelola program

Membantu membangun hubungan kemitraan sekolah dengan sekolah lain

Mengembangkan keprofesionalan

  1. Sebagai tenaga profesional

Melakukan upaya – upaya meningkatkan kemampuan profesional.

C.   Etika Profesi Guru

Sebagai seorang pendidik diharapkan mampu memahami etika profesi guru antara lain :

  1. Memiliki kepribadian yang tangguh yang bercirikan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, kreatif.
  2. Memiliki wawasan kependidikan, psikologi, budaya peserta didik dan lingkungan.
  3. Mampu melaksanakan praktik bimbingan dan konseling secara profesional.
  4. Mampu memecahkan berbagai persoalan yang menyangkut bimbingan konseling.
  5. Mampu mengembangkan dan mempraktekan kerjasama dalam bidangnya dengan pihak terkait.
  6. Memiliki wawasan psiko social kependidikan dan kemampuan memberdayakan warga belajar dalam konteks lingkungan.
  7. Memiliki pengetahuan tentang hakikat, tujuan, dan prinsip evaluasi pendidikan.
  8. Mampu menerapkan fungsi manajemen dan kepemimpinan pendidikan dalam berbagai konteks.
  9. Memiliki wawasan yang luas tentang teknologi pembelajaran.
  10. Mampu menerapkan berbagai prinsip teknologi pembelajaran dalam berbagai konsep.
  11. Mampu memecahkan masalah pendidikan melalui teknologi pembelajaran.
  12. Mampu mengembangkan dan mempraktikan kerja sama dalam bidangnya dengan pihak terkait.

 D.  Standar Kompetensi Guru

    1. Pengertian kompetensi guru

Dalam Undang – Undang guru dan dosen ( UUGD ) disebutkan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugasnya sebagai agen pembelajaran.

  1. Ruang lingkup kompetensi guru

Dalam UUGD dan PP No 14 tahun 2005 dinyatakan bahwa ruang lingkup kompetensi guru meliputi 4 hal yaitu :

  1. Kompetensi kepribadian : kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, berakhlak mulia.
  2. Kompetensi pedagogik : kemampuan mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan, dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan sebagai potensi yang dimiliki.
  3. Kompetensi profesional : kemampuan menguasai materi pembelaaran secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansikeilmuan yang menaungi materinya serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.
  4. Kompetensi social : kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/ wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

E.   Pengertian Profesional

            Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata profesional berasa dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang memiliki kehlian seperti guru, dokter, dan hakim. Dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak memperoleh pekerjaan lain.

       RUU Guru ( Pasal 1 ayat 4 ) menyatakan bahwa professional adalah kemampuan melakukan pekerjaan sesuai dengan keahlian dan pengabdian diri pada pihak lain.

       H.A.R Tilaar menjelaskan bahwa profesional adalah seorang yang menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan profesinya. Seorang profesional akan terus menerus meningkatkan mutu karyanya secara sadar melalui pendidikan dan pelatihan.

         Disimpulkan bahwa pengertian dari profesional adalah sikap dari seseorang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang pekerjaan tertentu sehingga dia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai pekerja dengan kemampuan maksimal dan terus menerus belajar untuk meningkatkan mutu karyanya melalui pelatihan dan pendidikan.

 F.   Ciri Guru Profesional

Dalam pembahasan mengenai cirri guru profesional akan dicontohkan dalam guru pendidikan jasmani karena mngingat tujuan kedepan dari pembahasan ini adalah mengenai guru pendidikan jasmani yang profesional. Berikut adalah ciri guru pendidikan jasmani yang profesional :

  1. Selalu memiliki energi untuk siswa : seorang guru terutama guru pendidikan jasmani biasanya menaruh perhatian yang lebih kepada siswanya disetiap diskusinya. Guru yang baik akan memiliki kemampuan mendengar dengan seksama.
  2. Seorang guru pendidikan jasmani sebelum mengajar sebaiknya telah memiliki tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran sehingga segala sesuatu telah dipersiapkan dengan baik.
  3. Seorang guru pendidikan jasmani sebaiknya memiliki kemampuan disiplin yang efektif sehingga dapat mempromosikan perubahan perilaku yang positif kepada siswanya.
  4. Seorang guru penjas sebaiknya memiliki manajemen kelas yang baik dan memastikan perilaku siswa yang baik. Terutama karena pada pemeblajaran pendidikan jasmani yang benar – benar membutuhkan perhatian khusus dari guru.
  5. Guru penjas sebaiknya dpaat menjaga komunikasi yang baik dan terbuka dengan orang tuan dan membuat mereka selalu update tentang informasi yang terjadi dalam pembelajaran pendidikan jasmani, disiplin dan isu lainnya, sehingga membuat mereka selalu bersedia memenuhi panggilan telepon, rapat, email, dan twitter.
  6. Seorang guru  penjas sebaiknya memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan selalu mendorong siswa mengembangkan minat dan baat mereka terutama dalam bidang olahraga.
  7. Seorang guru penjas harus memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar lainnya. Mereka sekuat tenaga memastikan pengajaran memenuhi standar itu.
  8. Guru penjas harus memiliki pengetahuan yang cukup terhadap materi yang diajarkan. Mereka harus bersiap diri terhadap segala resiko yang terjadi di lapangan apalagi mengingat pembelaaran penjas lebih banyak praktek dari pada teori.
  9. Selalu memberikan yang terbaik untuk anak – anak dan proses pengajaran. Sorang guru penjas harus bergairah mengajar dan bekerjasama dengan anak – anak. Mereka gembira dapat mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya.
  10. Seorang guru penjas memiliki hubungan yang berkualitas dengan siswanya sehingga siswa dapat saling menghormati dan saling percaya.

 G.   Cara Menjadi Guru Profesional

Terdapat beberapa cara atau saran untuk menjadikan seorang guru pendidikan jasmani menjadi profesional di bidangnya. Cara – cara  menjadi profesional tersebut antara lain adalah :

  1. Setiap guru penjas harus meyakini bahwa kunci kesuksesan anda terdapat dalam profesi anda.
  2. Sebelum memulai pembelajaran sebaiknya merancang terlebih dahulu pembelajaran yang akan dilaksanakan untuk memudahkan kerja nantinya. Milikilah dokumen – dokumen penting seperti kurikulum, silabus, dan system penilaian yang mendukung tugas guru penjas serta menyiapkan serta menguasai lebih banyak materi yang akan diajarkan dan bersiap untuk pembelajaran siswa yang lambat.
  3. Melakukan pembelajaran yang menyeimbangkan aktivitas dan fisik siswa dapat dilakukan aktivitas pembelajaran yang bervariasi, jika perlu diberikan humor atau permainan edukatif terutama dalam pembelajaran penjas dan menggunakan sumber belajar yang bervariasi guna lebih memperkaya pengalaman belajar siswa.
  4. Dalam melaksanakan pembelajaran guru dapat memanfaatkan media pembelajaran baik yang terdapat disekitar atau lingkungan yang mungkin dapat lebih efektif dalam pengembangan konsep maupun menggunakan kecanggihan tenologi yang ada.
  5. Seorang guru harus menghargai siswa jika ingin dihargai, dihormati, dan dimengerti oleh mereka. Jangan lupa memberikan pujian atau hadiah kepada siswa atas imbalan prestasi mereka. Hindari menvonis siswa yang gagal karena guru yang baik akan selalu memberi kesempatan lagi bagi siswa yang belum berhasil.
  6. Jangan pernah mengatakan kepada siswa tentang kegagalan mereka tanpa memberitahukan bagaimana mereka dapat memperbaiki atau memperoleh bantuan untuk memperbaiki.
  7. Jagalah hubungann baik dengan siswa dengan berbagi kebahagiaan dengan mereka,jangan berputus asa dengan  kenakalan siswa karena boleh jadi siswa yang paling menjengkelkan adalah yang paling butuh perhatian.
  8. Luaskan wilayah pergaulan anda dengan bergabung pada asosiasi profesi guru pendidikan jasmani. Hal ini akan membuka diri kita dan memperkaya pengalaman dan pembelajaran.
  9. Banyaklah membaca buku yang dapat meneguhkan kemampuan pedagogik, kepribadian, profesional dan social sebagai guru.
  10. Menguasai teknologi terbaru, belajar pada orang lain bila perlu sehingga jangan biarkan siswa menganggap anda ketinggalan jaman.
  11. Guru harus memperbanyak tukar pikiran tentang hal – hal yang berkaitan dengan pengalaman mengembangkan materi pelajaran dan berinteraksi dengan peserta didik. Tukar pikiran ini dapat dilaksanakan dalam pertemuan guru mata pelajaran yang sama dan dalam seminar – seminar. Kegiatan tersebut harus mengangkat topik pembicaraan. Membicarakan dalam pertemuan – pertemuan ilmiah hasil penelitian yang dilakukan oleh para guru sendiri. Guru harus melakukan penelitian. Guru harus membiasakan diri untuk mengkomunikasikan hasil penelitian yang dilakukan khususnya lewat media cetak.

 

BAB III

PENUTUP

 A.  Kesimpulan

        Dalam rangka mencapai mutu yang tinggi dalam bidang pendidikan, peranan guru sangatlah penting bahkan sangat utama. Untuk itu, maka profesionalisme guru harus ditegakkan dengan cara pemenuhan syarat-syarat kompetensi yang harus dikuasai oleh setiap guru, baik di bidang penguasaan keahlian materi keilmuan maupun metodologi. Guru harus bertanggungjawab atas tugas-tugasnya dan harus mengembangkan kesejawatan dengan sesama guru melalui keikutsertaan dan pengembangan organisasi profesi guru. Untuk mencapai kondisi guru yang profesional, para guru harus menjadikan orientasi mutu dan profesionalisme guru sebagai etos kerja mereka dan menjadikannya sebagai landasan orientasi berperilaku dalam tugas-tugas profesinya. Karenanya, maka kode etik profesi guru harus dijunjung tinggi. Dalam perkembangannya, disadari bahwa profesi guru belum dalam posisi yang ideal seperti yang diharapkan, namun harus terus diperjuangkan menuju yang terbaik. Pada saat diberlakukannya otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan yang bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya teknologi informasi yang sangat pesat, dipahami bahwa banyak tantangan sekaligus peluang yang harus dihadapi untuk dapat diselesaikan oleh para guru dan lembaga penyelenggara pendidikan. Tantangan dan peluang tersebut antara lain: berubahnya peran guru dalam manajemen proses belajar mengajar, kurikulum yang terdesentralisasi, pemanfaatan secara optimal sumber-sumber belajar lain dan teknologi informasi, usaha pencapaian layanan mutu pendidikan yang optimal, dan penegakan profesionalisme guru. Para guru mempunyai tantangan untuk dapat beradaptasi dengan sebaik-baiknya dalam situasi transisi, agar dapat memperkecil dampak negatif dan memperbesar dampak positifnya.

 

  1. Saran
    1. Para guru haruslah dapat mengembangkan suatu perilaku adaptif agar berhasil mengemban profesinya di era otonomi daerah dan era global ini.
    2. Dengan cara demikian, karena guru adalah “soko guru” pendidikan, mudah-mudahan peningkatan mutu pendidikan di era otonomi daerah segera akan tercapai.
    3. Sebaiknya guru maupun murid lebih meningkatkan profesionalisme dan prestasi belajar yang ada sehingga hasil pembelajaran akan lebih maksimal meskipun prestasi belajar siswa dapat dikualifikasikan

 

DAFTAR PUSTAKA

__________. 2004. Reaktualisasi Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Pendidikan di Indonesia. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Sosiologi Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Surakarta : Universitas Sebelas Maret.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, 2002, Cetakan ke 2

Hamalik, Oemar. 2006.Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta :  PT. Bumi Aksara, Cet, Ke-4.

Karsidi, Rayik. 2000. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan. Surakarta

R. Hermawan S. (1979), Etika Keguruan , Jakarta , PT Margi Waluyo

Samana, M.Pd (1994) Profesionalisme Keguruan , Yogyakarta, Kanisius

Sanusi, Ahmad. (1991) Studi Pengembangan Model Pndidikan Profesional Tenaga Kependidikan, Bandung, IKIP Bandung

Slamet,Margono. 1999. Filosofi Mutu dan penerapan Prinsip – Prinsip Manajemen Mutu. Bogor : IPB

PENTINGNYA PENGUKURAN DALAM BELAJAR GERAK

Published 24 Maret 2012 by Kurwinda Kristi

  1. Belajar Gerak

Adalah Suatu rangkaian  proses yang berhubungan dengan latihan/ pengalaman yang mengarahkan pada terjadinya perubahan -perubahan yang relatif permanen dalam kemampuan seseorang untuk menampilkan gerakan-gerakan yang terampil.(Schmids, 1991). Yaitu upaya meningkatkan keterampilan gerak tubuh secara keseluruhan dan upaya penguasaan pola-pola gerak keterampilan dalam kaitannya dengan konsep ruang,waktu dan gaya.

Menurut Sugiyanto (1994: 27) Belajar gerak adalah mempelajari pola-pola gerak keterampilan tubuh. Proses belajarnya melalui pengamatan dan mempraktekkan pola-pola gerak yang dipelajari. Hasil ahkir dari belajar gerak adalah kemampuan melakukan pola-pola gerak keterampilan tubuh. Hasil akhir belajar gerak  adalah kemampuan melakukan pola-pola gerak keterampilan tubuh, setiap tujuan pembelajaran gerak pada umumnya memiliki harapan dengan munculnya hasil tertentu, hasil tersebut biasanya adalah berupa penguasan keterampilan. Penampilan yang terampil merupakan tujuan ahkir dari pembelajaran gerak.

 

  1. Pengukuran

Pengukuran ialah skore (angka) yang ditentukan atas dasar suatu tes (Biyakto, 1993: 3). Pengukuran adalah suatu alat bantu dalam proses evaluasi dengan berbagai macam alat dan teknik yang dipergunakan untuk mengumpulkan data.

 Pengukuran adalah suatu proses pengumpulan data / informasi tentang individu maupun obyek tertentu, yaitu mulai dari mempersiapkan alat ukur yang digunakan sampai diperolehnya hasil (misalnya : frekuensi, jarak, waktu, dan satuan ukuran suhu). Hasil pengukuran bersifat kuantitatif. Dengan demikian, yang dimaksud dengan pengukuran (measurement) adalah suatu proses untuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu objek tertentu dengan menggunakan alat ukur (test) yang baku dimana hasilnya nanti dapat diolah secara statistika (Wahjoedi, 2001: 12).

Pengukuran gerak adalah suatu proses pengumpulan data/ informasi tentang kemampuan gerak seseorang/ individu mulai dari alat ukur sampai hasil pengukurannya.

 

  1. Alat Ukur

Alat ukur/ Tes biasanya didefinisikan sebagai suatu alat atau instrument dari pengukuran yang digunakan untuk mendapatkan data tentang karakteristik seseorang atau kelompok misalnya kesegaran jasmani diukur dengan tes kebugaran jasmani (Biyakto, 1993: 3). Jadi, yang dimaksud dengan tes adalah suatu alat yang digunakan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang seseorang atau obyek tertentu(Wahjoedi, 2001: 12).

Alat ukur gerak : adalah instrumen yang digunakan untuk memperoleh informasi/ data yang bersifat motorik/ kemampuan gerak yang dapat dihimpun melalui tes kemampuan dan dasar gerak yang fungsional dan tes suatu cabang olahraga pada seseorang.

Kriteria Alat Ukur dalam pengukuran :

  1. Valid : seberapa baik suatu tes dapat mengukur apa yang ingin diukur dan dapat memenuhi fungsi sesuai dengan penggunaannya.
  2. Reliable : menggambarkan konsistensi hasil pengukuran terhadap objek yang sama dengan alat ukur yang sama.
  3. Objektivitas : kesamaan skore yang diberikan beberapa penilai terhadap objek yang sama.
  4. Ekonomis : alat ukur murah
  5. Praktis : mudah digunakan dan mudah dipahami
  6. Adanya norma yang absolut

  1. Pentingnya Pengukuran Belajar gerak

Dalam pelaksanaan tes dan pengukuran dapat menggunakan aat ukur yang sudah ada ataupun dapat membuat sendiri. Pengukuran akan sangat penting untuk dapat melihat kemajuan hasil belajar gerak seseorang. Dalam melakukan pengukuran diperlukan alat ukur sesuai dengan kriteria alat ukur diatas. Pengukuran hasil belajar gerak yang biasa dilkaukan oleh guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adalah untuk memenuhi kebutuhan tugasnya  sebagai seorang guru, diantaranya kegunaan pengukuran tersebut adalah :

  1. Menjadikannya sebagai sarana umpan balik guru pada siswa.
  2. Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar lagi.
  3. Membantu siswa untuk menilai kemampuannya sendiri.
  4. Alat untuk emmperoleh data yang objektif.
  5. Untuk menentukan seleksi dengan fair
  6. Sebagai keperluan diagnosa ( body mekanik, kebugaran jasmani, dan keterampilan gerak )

 

  1. Daftar Pustaka

Arikunto, Suhasmini. 1995. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Depkes Republik Indonesia. 2005. Petunjuk Teknis Pengukuran Kebugaran Jasmani. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Depkes

Mulyono, Biyakto Atmojo, Sarwono. 1995. Evaluasi Pengajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta : Depdikbud Diknasmen

Nurhasan. 2009. Tes dan Pengukuran Pendidikan Olahraga. FPOK – UPI

Wahjoedi. 2001. Landasan Evaluasi Pendidikan Jasmani. Jakarta : Raja Grafindo Pustaka

TAKTIK DAN TEKNIK PERMAINAN BULUTANGKIS

Published 12 Maret 2012 by Kurwinda Kristi

TAKTIK DAN TEKNIK BERMAIN BULUTANGKIS

  1. Pengertian Taktik dan Teknik

Teknik adalah suatu proses gerakan yang dianggap efektif dan efisien serta rasional untuk melaksanakan tugas/ aturan dengan baik dalam permainan/ pertandingan/ perlombaan.

Taktik adalah gaya seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan suatu teknik yang sifatnya individual maupun kelompok dalam suatu permainan/ pertandingan/ perlombaan. Biasanya berupa siasat untuk menjalankan teknik berdasarkan kemampuan yang dimiliki.

Teknik Dasar Permainan Bulutangkis

1.   Cara Memegang Raket

Ada 2 cara pegangan raket yaitu : Forehand dan Backhand.

Pegangan raket cara forehand :

ü  Pegang raket dengan tangan kiri, kepala raket menyamping, pegang raket seperti menjabat tangan ( bentuk V ) pada gagang raket. Jari tengah, jari manis, dan kelingking menggenggam raket sedangkan jari telunjuk agak terpisah. Letakan ibu jari diantara tiga jari dan jari telunjuk.

Pegangan raket cara backhand :

ü  Geser V tangah kearah dalam. Letaknya disamping dalam, bantalan jempol berada pada pegangan raket yang lebar

2.  Gerakan kaki ( footwork )

Kecepatan gerak kaki untuk bisa menghasilkan pukulan yang berkualitas. Gerak langkah ke depan, belakang, samping saat memukul kok dengan memperhatikan keseimbangan. Gerak langkah meluncur cepat sangat efektif dalam memukul da hindari berdiri dengan telapak kaki saat menunggu datangnya kok

3.  Sikap dan Posisi

Berat badan tetap bertumpu pada kedua kaki agar seimbang. Tekuk kedua lutut dan berdiri dengan ujung kaki sehingga posisi pinggang tetap tegak. Kedua kaki terbuka selebar bahu dengan posisi sejajar atau salah satu didepannya. Lengan dengan siku bengkok di samping badan sehingga lengan bagian atas  yang memegang raket bebas bergerak. Kepala raket lebih tinggi dari kepala kita.

4.   Hitting Position ( posisi memukul )

Overhead ( atas ) untuk right handed  adalah posisi badan menyamping dengan arah net. Posisi kaki kanan di belakang kaki kiri. Saat memukul harus terjadi eprpindahan berat badan dari kaki kanan ke kaki kiri. Posisi badan harus dibelakang bola yang akan dipukul. Untuk underhead posisi kaki kanan selalu di depan dan kaki kiri dibelakang. Lutut kanan dibengkokkan, kerendahannya sesuai dengan ketinggian bola yang akan dipukul. Footwork maju mundur.

5.   Service

  1. Service forehand pendek : kok dipukul dengan ayunan raket yang relative pendek dan tidak menggunakan tenaga pergelangan tangan.
  2. Service forehand tinggi : kok dipukul dengan tenaga penuh, kedua kaki terbuka selebar pinggul. Dilakukan dengan sempurna serta diikuti gerak peralihan titik berat badan dari kaki belakang ke kaki depan secara continue. Biasanya digunakan pemain tunggal.
  3. Service backhand : kai kanan di depan kaki kiri, ujung kaki kanan mengarah ke sasaran yang diinginkan. Titik berat badan di kedua kaki. Ayunan raket relatif pendek hanya didorong peralihan berat badan dari kai belakang ke depan.

6.    Pengembalian service

Teknik pengembalian servis, sangat penting dikuasai dengan benar oleh setiap pemain bulutangkis. Arahkan kok ke daerah sisi kanan dan kiri lapangan lawan atau ke sudut depan atau belakang lapangan lawan.

7.   Underhand

Saat memukul kok, gunakan tenaga kekuatan siku dan pergelangan tangan, hingga gerakan lanjut dari pukulan ini berakhir di atas bahu kiri. Perhatikan, agar telapak kaki kanan tetap kontak dengan lantai sambil menjangkau kok ada dua jenis yaitu clear underhand dan flick underhand.

8.   Overhead clear/ lob

Pegangan forehand, pegang raket pada posisinya disamping bahu. Posisi kaki kanan di belakang kaki kiri, saat memukul terjadi perpindahan beban badan. Posisi badan dibelakang bola. Bola dipukul seperti gerakan melempar. Saat perkenaan tangan harus lurus. Lecutkan pergelangan saat terkena bola.

9.   Smash

Yaitu pukulan overhead (atas) yang diarahkan ke bawah dan dilakukan dengan tenaga penuh. Pukulan ini identik sebagai pukulan menyerang. Karena itu tujuan utamanya untuk mematikan lawan

10.   Dropshot ( pukulan potong )

Adalah pukulan yang dilakukan seperti smes. Perbedaannya pada posisi raket saat perkenaan dengan kok. Bola dipukul dengan dorongan dan sentuhan yang halus. Dropshot (pukulan potong) yang baik adalah apabila jatuhnya bola dekat dengan net dan tidak melewati garis ganda.

11.   Netting

Adalah pukulan yang dilakukan dekat net, diarahkan sedekat mungkin ke net, dipukul dengan sentuhan tenaga halus sekali. Pukulan netting yang baik yaitu apabila bolanya dipukul halus dan melintir tipis dekat sekali dengan net.

Cara Melatih Teknik Dasar Permainan Bulutangkis

    1. Pegangan raket : siswa dilatih membiasakan diri memegang raket dengan benar dan luwes tetapi bertenaga. Melakukan gerakan kea rah kanan dan kiri menggunakan tenaga pergelangan tangan. Gerakan pergelangan tangan ke atas dan bawah, memukul kok ke tembok.
    2. Footwork : latih dengan gerakan kaki cepat ke kanan dan kiri, depan belakang.
    3. Sikap dan posisi tubuh : posisikan tubuh dengan sempurna dan bergerak leluasa.
    4. Hitting Position : dari tengah ke depan sebagai langkah dasar hanya dua langkah dimulai dengan kaki kiri kemudian kaki kanan. Dari tengah ke belakang dan dari depan ke belakang.
    5. Service : menggunakan kok yang dilakukan dengan sejumlah kok  secara berulang – ulang. Berlatih dengan tekun agar dapat melakukan gerakan ini sampai dapat menguasai gerakan dan ketrampilan service dengan utuh baik dan sempurna.
    6. Pengembalian service : biasakan latihan dengan mengarahkan kok ke sisi kanan dan kiri lapangan lawan ke sudut depan atau belakang lapangan lawan. Psinsipnya penempatan kok yang tepat, lawan akan bergerak untk memukul kkok sehingga ia terpaksa meninggalkan posisi strategisnya.
    7. Underhand : cara yang efektif untuk menguasai teknik dasar ini adalah mencitakan suasana berlatih bersama tim dengan memukul kok yang diarahkan relative jauh dari jangkauan, berlatihlah dengan tekun dan selalu mengevaluasi sendiri kesalahan yang dilakukan agar tidak dulangi lagi. Untuk pemula dengan lemparan banyak bola dan untuk koordinasi dengan langkahkan kaki kanan.
    8. Overhead clear/ lob : untuk pemula pertama – tama latihan dengan cara mengumpan dengan lemparan bbola agar timing memukul bisa diperoleh. Untuk alat bantu guna membiasakan gerakan dan memperoleh timing memukul yang pas, gunakan gantungan kok yang bisa diatur ketinggiannya.
    9. Smash : latihan fleksibilitas yang diikuti kekuatan. Denggan service atas kemudian dismash.
    10. Dropshot : berlatih gerak tipu.
    11. Netting : berlatih melakukan netting dengan pukulan paling renddah mendekati limit net.
  1. Sumber Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Bulu_tangkis

Sejahtera Badminton. Teknik Permainan Bulutangkis. Diakses dari ww.bulutangkis.com pada 6 Maret 2012.

FAKTOR PENYEBAB CEDERA OLAHRAGA

Published 10 Maret 2012 by Kurwinda Kristi
  1. Faktor Internal

Adalah penyebab cedera olahraga yang terjadi karena adanya rangsang/ pengaruh yang berasal dari dalam individu. Faktor – faktor internal tersebut diantaranya adalah :

  1. Umur : pada usia 30 – 40 tahun kekuatan otot relatif menurun, sedangkan elastisitas tendon telah menurun setelah usia 30 tahun sementara kekuatan otot menurun setelah usia 40 tahun. Kekuatan otot mencapai maksimal pada usia 25 tahun. Sehingga semakin usia seorang atlet bertambah maka semakin berpengaruh terhadap kondisi fisik atlet dan lamanya proses penyembuhan akibat cedera semakin lama.
  2. Faktor Pribadi : kematangan ( motoritas )/ keterampilan seorang atlet/ olahragawan yang masih  rendah akan lebih mudah dan lebih sering mengalami cedera dibandingkan dengan seorang atlet/ olahragawan yang telah terampil. Maka semakin bagus kemampuan motoriknya maka semakin kecil kemungkinan terkena cedera.
  3. Pengalaman : seorang atlet yang telah berpengalaman akan lebih kecil kemungkinan terkena cedera bila dibandingkan dengan atlet yang masih belum berpengalaman. Hal ini dikarenakan pengalaman seorang atlet senior atau atlet yang banyak pengalaman dalam bertanding telah menyadari akan resiko dari terjadinya cedera sehingga resiko terjadinya cedera akan lebih kecil dibandingkan dengan seorang atlet pemula.
  4. Tingkat latihan : latihan – latihan yang berat sehingga overuse akan dapat menambah resiko cedera dibandingkan dengan latihan dasar. Karena penggunaan otot yang yang lebih kompleks.
  5. Teknik Latihan : bila teknik latihan dilakukan secara benar maka akan mengurangi resiko cedera.  Misalnya seorang pemain bola Voli melakukan smash dengan meloncat dan turun dengan posisi pergelangan kaki menekuk akan mengakibatkan kerobekan ligament talofibolare atau ketika berlari salah satu kaki terperosok ke lubang sempit sehingga sendi lutut seperti diluruskan secara paksa atau tulang betis tertekuk sehingga mengakibatkan patah tulang.
  6. Warming Up : apabila pemanasan/ warming up ini tidak dilaksanakan dengan baik/ tidak memadai akan menyebabkan latihan fisik yang terjadi secara fisiologi tidak dapat diterima oleh tubuh karena otot belum siap menerima pembebanan. Jadi pemanasan itu penting agar tubuh dapat beradaptasi terlebih dahulu sehingga mengurangi resiko cedera akibat kurang elastisitas sendi.
  7. Recovery Period : perlunya pemberian waktu istirahat bagi organ tubuh untuk merecovery organ – organ agar dapat bekerja prima lagi sangat penting untuk mengghindari resiko terkena cedera. Semisalnya padatnya frekuensi latihan menjelang kompetisi tanpa adanya waktu recovery atau jarak kompetisi yang terlalu dekat mengakibatkan kurangnya waktu bagi organ tubuh untuk recovery.
  8. Kondisi Tubuh yang Kurang Fit : kondisi tubuh yang kurang baik sebaiknya jangan dipaksakan untuk berolahraga karena jaringan – jaringan tubuh kekurangan sistem imun dan lemahnya system koordinasi sehingga akan lebih mudah mengalami cedera.
  9. Keseimbangan nutrisi : bila seorang atlet memiliki keseimbangan nutrisi yang baik maka lebih kecil kemungkinan mendapatkan cedera, dan bila cedera pun akan lebih cepat proses penyembuhannya karena nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk recovery terpenuhi dengan baik.
  10. Hal  – Hal lain yang berpengaruh : istirahat yang cukup, hindari gaya hidup tidak sehat.
  11. Faktor Eksternal

Adalah faktor – faktor yang berada di luar individu namun memberikan pengaruh terhadap individu tersebut. Faktor – faktor eksternal penyebab cedera tersebut antara lain :

  1. Kondisi lapangan : lapangan yang licin dan tidak rata akan lebih mudah mengakibatkan cedera.
  2. Peralatan : peralatan yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan cabang olahraga akan menghindari terjadinya cedera.
  3. Kondisi lingkungan : bila kondisi penerangan kurang semisal dalam permainan basket akan mengakibatkan benturan dengan pemain lawan sehingga mengakibatkan cedera. Selain itu cuaca yang buruk juga lebih banyak menyebabkan cedera.
  4. Penonton : penonton yang fanatic biasanya melakukan apa saja saat timnya kalah bahkan dapat mencederai pemain lawan timnya.
  5. Wasit ; wasit yang kurang tegas dalam memimpin pertandingan  dan kurang memahami peraturan terutama pertandingan yang memerlukan kontak fisik akan dapat mengakibatkan atletnya cedera.
  6. Sifat dari cabang olahraga, misalnya olahraga yang membutuhan kekuatan yang besar dan penggunaan otot yang lebih kompleks akan lebih mudah mengakibatkan cedera.
  7. Kesimpulan : Cedera olahraga dapat disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal tersebut antara lain  umur, faktor pribadi, pengalaman, tingkat latihan, teknik latihan, warming up, recovery period, kondisi tubuh yang kurang fit, keseimbangan nutrisi, dan gaya hidup atlet. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh adalah  kondisi lapangan, peralatan, kondisi lingkungan, penonton, wasit, dan sifat dari cabang olahraga tersebut. Cedera olahraga dapat diminimalisasi dengan pemberitahuan pengetahuan tentang cedera olahraga pada atlet dan dampaknya serta pengorganisasian sistem latihan dan perlengkapan latihan atlet.

 

  1. Sumber Referensi

Arofah, Novita Intan. Diagnosis dan Manajemen Cedera Olahraga. Dosen Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta

Setiawan, Arief. 2011. Faktor Penyebab Cedera Olahraga. Jurnal Media Ilmu Keolahragaan Volume 1 edisi 1 Juli 201, ISSN 2088-6802. Universitas Negeri Semarang diakses dari http//:journal.unnes.ac.id

Sudijandoko, Andun. 2000. Perawatan dan Pencegahan Cedera. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menteri Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FAKTOR PENYEBAB CEDERA OLAHRAGA

Published 9 Maret 2012 by Kurwinda Kristi

A. Faktor Internal
Adalah penyebab cedera olahraga yang terjadi karena adanya rangsang/ pengaruh yang berasal dari dalam individu. Faktor – faktor internal tersebut diantaranya adalah :
1. Umur : pada usia 30 – 40 tahun kekuatan otot relatif menurun, sedangkan elastisitas tendon telah menurun setelah usia 30 tahun sementara kekuatan otot menurun setelah usia 40 tahun. Kekuatan otot mencapai maksimal pada usia 25 tahun. Sehingga semakin usia seorang atlet bertambah maka semakin berpengaruh terhadap kondisi fisik atlet dan lamanya proses penyembuhan akibat cedera semakin lama.
2. Faktor Pribadi : kematangan ( motoritas )/ keterampilan seorang atlet/ olahragawan yang masih rendah akan lebih mudah dan lebih sering mengalami cedera dibandingkan dengan seorang atlet/ olahragawan yang telah terampil. Maka semakin bagus kemampuan motoriknya maka semakin kecil kemungkinan terkena cedera.
3. Pengalaman : seorang atlet yang telah berpengalaman akan lebih kecil kemungkinan terkena cedera bila dibandingkan dengan atlet yang masih belum berpengalaman. Hal ini dikarenakan pengalaman seorang atlet senior atau atlet yang banyak pengalaman dalam bertanding telah menyadari akan resiko dari terjadinya cedera sehingga resiko terjadinya cedera akan lebih kecil dibandingkan dengan seorang atlet pemula.
4. Tingkat latihan : latihan – latihan yang berat sehingga overuse akan dapat menambah resiko cedera dibandingkan dengan latihan dasar. Karena penggunaan otot yang yang lebih kompleks.
5. Teknik Latihan : bila teknik latihan dilakukan secara benar maka akan mengurangi resiko cedera. Misalnya seorang pemain bola Voli melakukan smash dengan meloncat dan turun dengan posisi pergelangan kaki menekuk akan mengakibatkan kerobekan ligament talofibolare atau ketika berlari salah satu kaki terperosok ke lubang sempit sehingga sendi lutut seperti diluruskan secara paksa atau tulang betis tertekuk sehingga mengakibatkan patah tulang.
6. Warming Up : apabila pemanasan/ warming up ini tidak dilaksanakan dengan baik/ tidak memadai akan menyebabkan latihan fisik yang terjadi secara fisiologi tidak dapat diterima oleh tubuh karena otot belum siap menerima pembebanan. Jadi pemanasan itu penting agar tubuh dapat beradaptasi terlebih dahulu sehingga mengurangi resiko cedera akibat kurang elastisitas sendi.
7. Recovery Period : perlunya pemberian waktu istirahat bagi organ tubuh untuk merecovery organ – organ agar dapat bekerja prima lagi sangat penting untuk mengghindari resiko terkena cedera. Semisalnya padatnya frekuensi latihan menjelang kompetisi tanpa adanya waktu recovery atau jarak kompetisi yang terlalu dekat mengakibatkan kurangnya waktu bagi organ tubuh untuk recovery.
8. Kondisi Tubuh yang Kurang Fit : kondisi tubuh yang kurang baik sebaiknya jangan dipaksakan untuk berolahraga karena jaringan – jaringan tubuh kekurangan sistem imun dan lemahnya system koordinasi sehingga akan lebih mudah mengalami cedera.
9. Keseimbangan nutrisi : bila seorang atlet memiliki keseimbangan nutrisi yang baik maka lebih kecil kemungkinan mendapatkan cedera, dan bila cedera pun akan lebih cepat proses penyembuhannya karena nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk recovery terpenuhi dengan baik.
10. Hal – Hal lain yang berpengaruh : istirahat yang cukup, hindari gaya hidup tidak sehat.
B. Faktor Eksternal
Adalah faktor – faktor yang berada di luar individu namun memberikan pengaruh terhadap individu tersebut. Faktor – faktor eksternal penyebab cedera tersebut antara lain :
1. Kondisi lapangan : lapangan yang licin dan tidak rata akan lebih mudah mengakibatkan cedera.
2. Peralatan : peralatan yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan cabang olahraga akan menghindari terjadinya cedera.
3. Kondisi lingkungan : bila kondisi penerangan kurang semisal dalam permainan basket akan mengakibatkan benturan dengan pemain lawan sehingga mengakibatkan cedera. Selain itu cuaca yang buruk juga lebih banyak menyebabkan cedera.
4. Penonton : penonton yang fanatic biasanya melakukan apa saja saat timnya kalah bahkan dapat mencederai pemain lawan timnya.
5. Wasit ; wasit yang kurang tegas dalam memimpin pertandingan dan kurang memahami peraturan terutama pertandingan yang memerlukan kontak fisik akan dapat mengakibatkan atletnya cedera.
6. Sifat dari cabang olahraga, misalnya olahraga yang membutuhan kekuatan yang besar dan penggunaan otot yang lebih kompleks akan lebih mudah mengakibatkan cedera.
C. Kesimpulan
Cedera olahraga dapat disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal tersebut antara lain umur, faktor pribadi, pengalaman, tingkat latihan, teknik latihan, warming up, recovery period, kondisi tubuh yang kurang fit, keseimbangan nutrisi, dan gaya hidup atlet. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh adalah kondisi lapangan, peralatan, kondisi lingkungan, penonton, wasit, dan sifat dari cabang olahraga tersebut. Cedera olahraga dapat diminimalisasi dengan pemberitahuan pengetahuan tentang cedera olahraga pada atlet dan dampaknya serta pengorganisasian sistem latihan dan perlengkapan latihan atlet.

D. Sumber Referensi
Arofah, Novita Intan. Diagnosis dan Manajemen Cedera Olahraga. Dosen Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta
Setiawan, Arief. 2011. Faktor Penyebab Cedera Olahraga. Jurnal Media Ilmu Keolahragaan Volume 1 edisi 1 Juli 201, ISSN 2088-6802. Universitas Negeri Semarang diakses dari http//:journal.unnes.ac.id
Sudijandoko, Andun. 2000. Perawatan dan Pencegahan Cedera. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menteri Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III

FUNGSI DAN PERUBAHAN SEL OTAK SETELAH BELAJAR

Published 7 Maret 2012 by Kurwinda Kristi

OTAK DAN FUNGSI DALAM BELAJAR

           Tubuh (fisik dan nonfisik) adalah suatu kesatuan yang integral dari milyaran sel, jaringan, organ dan sistem. Perangkat yang berperanan langsung adalah panca indera terutama indera audio-visual. Sentral koordinasi panca indera dan semua perangkat tubuh adalah otak.

Karakteristik Otak

Berat sekitar 1,5 kg  kurang dari 2,5% berat tubuh. Mengkonsumsi 25% total energi tubuh Terdiri dari lebih dari :

  • 100 milyar sel saraf ( neuron )
  • 1 trilyun sel glia
  • 1000 trilyun sambungan ( sinapsis )
  • 280 kuintilium memori

            Roger Sperry menemukan dua belahan otak manusia yang cara bekerjanya sangat berbeda. Otak kiri “otak logis” (suka mengoreksi) dan otak kanan “otak imajinatif” (suka mengacak ). Otak kanan dan kiri dihubungkan oleh Corpus Callosum dua komponen yang berbeda Diocles – “Pengertian” dan “Sensing” Kiri : menerima informasi, Kanan : memahami informasi.

  1. Korteks ( Kulit Otak ) : Memegang peranan yang sangat penting dalam proses berpikir dan kepribadian Mempunyai permukaan yang luas (karena adanya konvulsi) Luas dan kompleksitas otak menunjukkan kecerdasan seseorang Terbagi atas beberapa area kerja
  2. Sistem Limbik Adalah otak tengah yang memainkan peranan besar dalam hubungan manusia dan dalam emosi. Ini adalah otak sosial dan emosional. Di otak ini juga terkandung sarana yang penting untuk ingatan jangka panjang
  3. Otak Reptil Adalah bagian otak paling sederhana. Tugas utamanya adalah mempertahankan diri, otak ini menguasai fungsi-fungsi otomatis seperti degupan jantung dan sistem peredaran darah

              Menurut Gardner, kecerdasan merupakan kumpulan kepingan kemampuan yang ada di beragam otak. Semua kepingan ini saling berhubungan, tetapi juga bekerja sendiri-sendiri. Temuan Gardner ini didasarkan pada penelitian para pakar otak (neurolog) bahwa otak manusia itu terdiri atas area-area atau kepingan-kepingan. Dan yang terpenting, mereka tidak statis atau ditentukan saat lahir. Seperti otot, kecerdasan dapat berkembang sepanjang hidup asal terus dibina dan ditingkatkan.

Cara Otak Belajar :

              Neuron (sel saraf otak) berkembang perlahan dengan cara meraih neuron lain yang memiliki ranting dendrit yang sama. Ketika kita menyerap informasi baru (belajar), dendrit kita membuat cabang-cabang baru. Setiap cabang ini akan mengembangkan lagi ranting-ranting lainnya Otak Anda memiliki 100 miliar neuron atau sel saraf aktif. Masing-masing neuron memiliki hingga 20.000 koneksi. (Sumber: David A. Sousa, How the Brain Learns).

Proses pembelajaran

              Pada otak manusia, informasi yang dilewatkan dari satu neuron ke neuron yang lainnya berbentuk rangsangan listrik melalui dendrit. jika rangsangan tersebut diterima oleh suatu neuron, maka neuron tersebut akan membangkitkan output ke semua neuron yang berhubungan dengannya sampai dengan informasi tersebut sampai ketujuannya yaitu terjadi reaksi, jika rangsangan yang diterima terlalu halus, maka output yang dibangkitkan oleh neoron tersebut tidak akan direspon. tentu saja sangatlah sulit untuk memahami bagaimana otak manusia bisa belajar selama proses pembelajaran, terjadi perubahan yang cukup berarti pada bobot-bobot yang menghubungan antara neuron, apabila ada rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah diterima oleh neuron, maka neuron akan memberikan reaksi dengan cepat namun apabila kelak ada rangsangan yang berbeda dengan apa yang telah diterima oleh neuron, maka neuron akan segera beradaptasi untuk memberikan reaksi yang sesuai.

 

Proses belajar

               Proses belajar harus mampu mengoptimalkan kerja dan fungsi Otak. Ir. Sutanto Windura (Director The Brainic Institute) mengatakan otak berjalan secara linier, setiap informasi masuk akan segera dipancarkan dengan sendirinya oleh otak menjadi asosiasi yang berbeda-beda. Untuk itulah cara kerja natural otak perlu dipelajari agar mendapatkan fungsi otak yang optimal.

Hukum-Hukum Otak

  1. Otak menyimpan informasi dalam sel-sel syarafnya.
  2. Otak memiliki komponen untuk menciptakan kebiasaan-kebiasaan dalam berpikir dan berperilaku.
  3. Otak menyimpan informasi dalam bentuk kata, gambar, dan warna.
  4. Otak tidak membedakan fakta dan ingatan.
  5. Imajinasi dapat memperkuat otak dan mencapai apa saja yang dikehendaki.
  6. Konsep dan informasi dalam otak disusun dalam bentuk pola-pola. Otak dapat menerima sekaligus menolak pola-pola itu. Otak terikat dan sekaligus tidak terikat dengan pola.
  7. Alat-alat indra dan reseptor saraf menghubungkan otak dengan dunia luar. Latihan indra dan latihan fisik dapat memperkuat otak.
  8. Otak tidak pernah istrahat. Ketika “otak rasional” kelelahan dan tidak dapat menuntaskan sebuah pekerjaan, maka “otak intuitif” akan melanjutkannya.
  9. Otak dan hati berusaha saling dekat. Otak yang diasah terus menerus dapat membawa pemiliknya ke jalan kebajikan dan kebijaksanaan, serta ketenangan jiwa.
  10. Kekuatan otak turut ditentukan oleh makanan fisik yang diterima otak..

The Learning Brain

            Pada otak manusia, berlaku ketentuan “You use it or You Loose it” semakin banyak digunakan otak kita menjadi semakin padat. Jumlah sel-sel Otak manusia dan berbagai otak binatang :

  1. Otak Manusia 100 miliar sel
  2. Otak kera 10 miliar sel. (1:10)
  3. Otak Tikus 5 juta sel (1: 20.000)
  4. Otak lalat 100 ribu sel (1: 1.000.000)

             Kelebihan lainnya dari otak manusia adalah memiliki kemampuan sebagai otak belajar sedangkan binatang diciptakan tidak memiliki sarana ini. Jumlah sel otak bukan menunjukan intelektualitas orang tersebut. Manusia hanya memerlukan otaknya kurang dari 1% untuk dapat hidup normal. Dengan demikian potensi besar masih tersimpan pada diri setiap manusia

              Dalam pembelajaran, otak kita akan menerima stimulus-stimulus yang diberikan kepada kita. Jika stimulus itu dianggap penting oleh otak, maka otak akan menempatkan stimulus itu ke dalam memori jangka panjang. Akan tetapi jika stimulus itu dianggap tidak begitu penting bagi otak, maka hanya akan menyisakan jejak yang lemah, dan diprioritaskan rendah. Tanpa kita sadari, segala ingatan dan pengalaman serta memori yang kita pelajari dan kita miliki sejak kita baru lahir, saat ini, hingga di akhir usia kita kelak, tersimpan rapi di dalam memori otak kita dan siap dipanggil oleh otak kita. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajarn yaitu nutrisi, teman, disfungsi otak, pra-pembelajaran, pengalaman, sifat dan temperamen, gen serta nutrisi.

             Gen tidak membentuk pola pembelajaran. Jika anak dilahirkan dengan gen dari seorang yang jenius, akan tetapi dibesarkan dalam lingkungan yang tidak mendukung dan tidak diperkaya, maka kesempatan baginya untuk menjadi jenius menjadi rendah. Pada sisi lain, anak yang dilahirkan dengan gen rata-rata, namun dibesarkan dalam lingkungan yang mendukung dan menstimulasi secara intelektual, maka kesempatan anak tersebut untuk mencapai tingkat yang luar biasa dapat terwujud. Ada lima tahap dalam pembelajaran, yaitu antara lain persiapan (mempersiapkan pembelajar dengan koneksi), akuisisi (penerimaan input sensori), elaborasi (mengoreksi kesalahan dan pendalaman), formasi memori (pembelajaran menggabungkan sandi), dan integrasi fungsional (memperkuat dan memperluas pembelajaran baru).

              Sehubungan dengan intelegensi, setiap anak memiliki bakat yang dibawa sejak lahir yang tidak hanya pada satu keahlian, namun dapat berupa kecerdasan ganda yang dilandasi paradigma bahwa setiap manusia terlahir membawa potensi genius. Potensi genius tersebut yaitu kekaguman, curiosity, spontanitas, vitalitas, fleksibilitas yang dapat diperoleh tanpa pendidikan formal.

               Dari uraian di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa berdasarkan fungsi otak kita dalam pembelajaran, sebagai pendidik sebaiknya menerapkan pembelajaran yang menyetarakan dengan kemampuan otak dalam belajar karena jumlah dan ukuran saraf otak terus bertambah hingga anak memasuki usia remaja. Selain itu guru juga harus senantiasa menyeimbangkan fungsi otak kanan dan otak kiri, serta mulai mengenali dan memperhatikan bakat siswanya

 

Daftar Pustaka

Belajar, Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas,

Bahaudin ,Taufik.2003. Brainware Management Depdiknas .2002.Tim Broad Based Educatio

Jounshon ,Elaine B. 2004. Contextual Teaching and learning,

 

CARA KERJA OTAK MANUSIA

Published 6 Maret 2012 by Kurwinda Kristi

          Bagaimana sih cara kerja otak kita sehubungan dengan pembelajaran? Otak merupakan benda kecil yang memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan kita. Semua kegiatan kita dijalankan oleh otak, dan terpusat pada otak. Otak kita terdiri dari 78% air, 10% lemak dan 8% protein. Dan bagian terbesar dari otak kita yaitu 80% merupakan cerebrum. Cerebrum bertanggung jawab atas fungsi-fungsi berfikir tingkatan tertinggi dan pengambilan keputusan. Otak manusia memiliki bagian terbesar dari korteks yang tak terikat (tidak memiliki fungsi tertentu) sehingga memberikan fleksibilitas dan kapasitas yang luar biasa bagi otak manusia untuk pembelajaran.

         Otak memiliki empat bagian, antara lain lobus occipital yaitu lobus bagian belakang yang bertanggung jawab atas penglihatan. Lobus frontal di bagian depan yang berperan terhadap tindakan-tindakan yang disengaja seperti memberi penilaian, kreativitas, menyelesaikan masalah dan merencanakan sesuatu. Lobus pariental yang terletak pada bagian atas dari otak kita, yang bertugas memproses sesuatu yang berhubungan dengan sensori yang lebih tinggi dan fungsi-fungsi bahasa. Yang terakhir yaitu lobus temporal yang berada pada bagian kanan dan kiri otak kita, yang bertanggung jawab terhadap pendengaran, memori, pemaknaan, dan bahasa. Namun, antara masing-masing lobus ada beberapa fungsi yang saling tumpang tindih.

            Ada dua macam sel otak yang kita miliki, yaitu sel glial dan neuron. Sel glial memiliki tugas multirupa dan meliputi produksi myelin bagi axon (perluasan sel saraf), pendukung struktural bagi penghalang darah otak, transportasi nutrien, dan pengaturan sistem imun. Neuron berfungsi menyalakan, mengintegrasikan dan mengolah informasi secara terus-menerus di sepanjang celah mikroskopik yang disebut sinapsis, yang menghubungkan satu sel dengan sel lainnya.

         Dalam pembelajaran, otak kita akan menerima stimulus-stimulus yang diberikan kepada kita. Jika stimulus itu dianggap penting oleh otak, maka otak akan menempatkan stimulus itu ke dalam memori jangka panjang. Akan tetapi jika stimulus itu dianggap tidak begitu penting bagi otak, maka hanya akan menyisakan jejak yang lemah, dan diprioritaskan rendah. Tanpa kita sadari, segala ingatan dan pengalaman serta memori yang kita pelajari dan kita miliki sejak kita baru lahir, saat ini, hingga di akhir usia kita kelak, tersimpan rapi di dalam memori otak kita dan siap dipanggil oleh otak kita. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajarn yaitu nutrisi, teman, disfungsi otak, pra-pembelajaran, pengalaman, sifat dan temperamen, gen serta nutrisi.

          Gen tidak membentuk pola pembelajaran. Jika anak dilahirkan dengan gen dari seorang yang jenius, akan tetapi dibesarkan dalam lingkungan yang tidak mendukung dan tidak diperkaya, maka kesempatan baginya untuk menjadi jenius menjadi rendah. Pada sisi lain, anak yang dilahirkan dengan gen rata-rata, namun dibesarkan dalam lingkungan yang mendukung dan menstimulasi secara intelektual, maka kesempatan anak tersebut untuk mencapai tingkat yang luar biasa dapat terwujud. Ada lima tahap dalam pembelajaran, yaitu antara lain persiapan (mempersiapkan pembelajar dengan koneksi), akuisisi (penerimaan input sensori), elaborasi (mengoreksi kesalahan dan pendalaman), formasi memori (pembelajaran menggabungkan sandi), dan integrasi fungsional (memperkuat dan memperluas pembelajaran baru).

         Sehubungan dengan intelegensi, setiap anak memiliki bakat yang dibawa sejak lahir yang tidak hanya pada satu keahlian, namun dapat berupa kecerdasan ganda yang dilandasi paradigma bahwa setiap manusia terlahir membawa potensi genius. Potensi genius tersebut yaitu kekaguman, curiosity, spontanitas, vitalitas, fleksibilitas yang dapat diperoleh tanpa pendidikan formal.

          Tiga tingkatan otak yaitu Reptilian brain/batang otak (lapisan paling dalam), Sistem limbic/otak mamalia, dijuluki otak paleomaminalia yang mewadahi aneka empsi (lapisan tengah), Neo-cortex/otak berpikir atau otak neomamalia yang berisi muatan intelegensi dan penalaran (lapisan paling luar).

         Dari uraian di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa berdasarkan fungsi otak kita dalam pembelajaran, sebagai pendidik sebaiknya menerapkan pembelajaran yang menyetarakan dengan kemampuan otak dalam belajar karena jumlah dan ukuran saraf otak terus bertambah hingga anak memasuki usia remaja. Selain itu guru juga harus senantiasa menyeimbangkan fungsi otak kanan dan otak kiri, serta mulai mengenali dan memperhatikan bakat siswanya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.